Lifestyle

47 Persen Komunitas Indonesia Punya Kebiasaan Emotional Eating, Padahal Ini adalah Lho Dampaknya

Kertasleces.co.id – Mengonsumsi makanan-makanan bergizi merupakan salah satu hal yang mana memang sebenarnya menjadi keharusan. Hal ini sebab makanan bergizi berpengaruh untuk memenuhi keperluan gizi seseorang.

Namun, mengonsumsi makanan bergizi cuma tidaklah cukup. alasannya , jikalau pola perilaku makan seseorang masih kurang baik, maka komposisi makanan yang digunakan dikonsumsi tiada dicerna tubuh dengan baik. Hal ini yang masih menjadi kesulitan pada beberapa warga di dalam Indonesia.

Berdasarkan penelitian hasil survei Health Collaborative Center (HCC), warga Indonesia masih miliki kebiasaan emotional eating, yaitu kebiasaan seseorang menggunakan makanan sebagai cara untuk mengatasi emosi, bukanlah makan oleh sebab itu lapar.

Ilustrasi makan di dalam restoran (Pixabay/bridgesward)
Ilustrasi makan di dalam restoran (Pixabay/bridgesward)

Padahal, ketika makan yang dimaksud dibutuhkan seseorang adalah mindful eating, yaitu teknik untuk membantu menjalankan kebiasaan makan dengan tambahan baik. Peneliti Utama Studi Perilaku Makan Mindful and Emotional Eating HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH mengungkapkan, sebanyak 47 persen rakyat Indonesia masih miliki kebiasaan emotional eating.

Meski mindful eating lebih banyak besar angkanya, yakni 53 persen, kebiasaan emotional eating ini juga masih menjadi hambatan yang tersebut harus diperhatikan. Pasalnya, kondisi ini memproduksi makanan yang dimaksud dikonsumsi menjadi tidaklah baik bagi tubuh.

“Sebanyak 53 persen mindful eater dan juga ini lebih tinggi banyak, sementara yang mana 47 persen ini emotional eater. Ini adalah juga cukup tinggi dikarenakan ketika emotional eater, hormon yang mana mengundurkan diri dari itu bisa saja sebabkan stres sehingga enzimnya tidaklah bekerja maksimal. Hal ini memproduksi makanan yang dikonsumsi jadi tidaklah tercerna dengan baik,” jelas Dr. Ray pada Diskusi Industri Media bersatu HCC, Rabu (24/1/2023).

Sementara itu, apabila seseorang melakukan mindful eating, ini akan berdampak baik bagi tubuhnya. Nantinya, pada waktu makan seseorang akan jadi lebih lanjut bahagia. Hal ini akan membantu menimbulkan hormon-hormon bahagia meninggalkan sehingga makanan diserap baik oleh tubuh. Jika hal ini terjadi, makan dampak dari makanan sehat itu akan juga baik pada tubuh.

“Mindful eater ini akan terhindar dari stres, nantinya hormon yang dimaksud pergi dari hormon bahagia, dopamin, oksitosin, serta lain-lain. Hal ini juga membantu menurunkan risiko terserang berbagai penyakit,” kata Dr. Ray.

Cara menerapkan mindful eating

Untuk menerapkan mindful eating pada dasarnya memang benar tiada mudah. Namun, hal ini bisa saja diterapkan dengan berbagai hal dalam antaranya:

1. Waktu makan yang digunakan tepat

Dr. Ray menyarankan, untuk menerapkan mindful eating, seseorang harus bisa saja menjaga waktu makannya. Artinya, ia harus bisa jadi memiliki jam makan yang digunakan jelas.

“Makan besar sesuai dengan timing yang sebanding gitu ya. Jadi kalau makan pagi, makan siang, makan di malam hari harus jelas. Jangan kemudian hari ini makan siang jam 2, besoknya makan siang jam 4. Jadi keteraturan pola makan itu merupakan praktik awal,” jelasnya.

2. Merekam kebiasaan makan yang mana baik

Hal lainnya yang tersebut penting diperhatikan yaitu merekam kebiasaan baik itu. Maksudnya, pada diri harus miliki kesadaran untuk mempunyai pola perilaku makan yang mana baik. Hal ini harus diterapkan pada diri sendiri.

3. Jangan makan sambil bekerja

Usahakan ketika makan, tidak ada sambil melakukan pekerjaan. Dr. Ray mengatakan, makan sambil menjalankan pekerjaan akan memberikan perasaan stres dan juga mampu menjadikan seseorang emotional eater. Untuk itu, tidaklah direkomendasikan makan sambil bekerja.

4. Usahakan bukan diet

Dr Ray mengungkapan 57 persen orang dengan emotional eater sedang di masa diet. Dari kebiasaan diet ini akan menghasilkan seseorang ketika makan menjadi tak mindful. Hal yang dimaksud yang menciptakan makanan menjadi bukan dicerna dengan baik.

(Sumber: Suara.com)

Related Articles

Back to top button