Kesehatan

Dokter Paru Tegaskan Beralih ke Vape Tidak Bisa Buat Seseorang Jadi Berhenti Merokok

Kertasleces.co.id – Rokok elektronik atau vape kerap dijadikan alat bagi seseorang untuk berhenti menghisap rokok konvensional. Padahal menghentikan kebiasaan merokok tidaklah sesederhana beralih jenis rokok yang dihisap. 

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K)., menegaskan bahwa vape juga sejenis memproduksi kecanduan seperti rokok konvensional, dikarenakan masih mengandung nikotin yang bersifat adiktif. 

“Rokok elektronik itu tidak ada memenuhi ketentuan sebagai nicotine replacement therapy untuk berhenti merokok,” kata prof. Agus di konferensi pers virtual, Selasa (9/1/2024). 

ilustrasi seseorang merokok (pexels.com/cottonbrostudio)
ilustrasi seseorang merokok (pexels.com/cottonbrostudio)

Merujuk dari anjuran Organisasi Aspek Kesehatan Bumi (WHO) mengenai nicotine replacement therapy atau terapi penggantian nikotin, terdapat beberapa aturan yang harus terpenuhi. Dari setiap anjuran itu tidak ada ada yang tersebut menyatakan peralihan pengaplikasian vape demi berhenti dari rokok konvensional. 

Prof. Agus menegaskan bahwa persyaratan pertama di nicotine replacement therapy justru seseorang harus berhenti mengonsumsi nikotin pada bentuk rokok apa pun. 

“Faktanya dalam Indonesia justru 2 penggunan (pengguna rokok elektrik serta konvensiomal) di dalam kita itu tinggi, 51 persen pelajar dalam Indonesia itu riset Uhamka. Dan 61,5 persen pelajar jadi 2 pelanggan pada Indonesia,” ungkap prof Agus.

Syarat kedua, lanjut prof. Agus, nikotin yang tersebut digunakan untuk tujuan berhenti merokok harus dapat mengatasi withdrawal atau reaksi yang mana melibatkan fisik juga mental seseorang ketika menghentikan asupan zat tersebut. Vape tak memenuhi persyaratan yang disebutkan oleh sebab itu zat nikotin pada dalamnya masih bersifat adiktif.

Dalam ilmu kedokteran juga belum ada bukti ilmiah atau hasil studi yang mana menyatakan vape bisa jadi digunakan untuk terapi berhenti merokok. Sebaliknya, vape justru dapat memunculkan berbagai permasalahan kesehatan. Walaupun tak ada zat tar di dalam dalamnya, seperti rokok konvensional, tetapi nikotin dan juga zat-zat kecil yang ada pada dalamnya masih berbahaya bagi kondisi tubuh tubuh, termasuk kanker.

“Baik rokok konvensional maupun elektronik sama-sama mengandung komponen toksik yang mana sifatnya iritatif, pada bagian asap maupun uap asap mengandung partikel halus yang mana disebut dengan partikular dapat merangsang terjadinya iritasi dengan induksi peradangan,” jelasnya.

(Sumber: Suara.com)

Related Articles

Back to top button