Kesehatan

Menkes Ingin Deteksi Dini Kanker Bisa Dilakukan di dalam Puskesmas, Lebih Murah Meriah?

Kertasleces.co.id – Menteri Bidang Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau pentingnya upaya deteksi dini untuk menurunkan nomor kematian yang tersebut disebabkan oleh kanker.

“Strategi utama menurunkan nomor kematian akibat neoplasma adalah dengan deteksi dini. Kalau karsinoma dapat diketahui tambahan dini, tingkat kesembuhannya lebih lanjut besar, serta biayanya juga tambahan murah,” ungkap Menkes Budi di keterangannya baru-baru ini. 

Sejalan dengan upaya mewujudkan metamorfosis kesehatan, Kementerian Bidang Kesehatan terus berupaya melengkapi prasarana pelayanan kemampuan fisik deteksi dini karsinoma pada tingkat puskesmas kabupaten/kota. Hal ini untuk mempermudah publik di melakukan layanan deteksi dini. 

Layanan deteksi dini ini khususnya untuk 4 jenis neoplasma utama, yakni tumor ganas kelenjar susu dan juga neoplasma serviks pada wanita, juga neoplasma paru-paru dan juga tumor ganas usus yang tersebut banyak kasusnya ditemui pada pria.

Ilustrasi neoplasma (Pixabay/PDpics)
Ilustrasi karsinoma (Pixabay/PDpics)

Menkes Budi menyatakan semua puskesmas di area 514 kabupaten/kota sedang disiapkan untuk bisa jadi melayani deteksi dini 4 jenis tumor ganas tersebut.

“Semua puskesmas sedang kami siapkan. Harapannya tahun ini, semua alatnya sanggup selesai kita bagikan secara bertahap ke 10.000 Puskesmas di dalam 514 Kabupaten/Kota,” ujar Menkes.

Alat kemampuan fisik yang dimaksud, yakni utamanya untuk deteksi dini karsinoma dada adalah Probe Linear USG. Sedangkan untuk deteksi dini neoplasma serviks, Kemenkes sudah ada mulai meluncurkan tes HPV DNA yang hasilnya lebih tinggi akurat dan juga prosesnya lebih lanjut mudah dibandingkan dengan Pap Smear.

Selain itu, Menkes Budi menyebutkan layanan deteksi dini karsinoma paru-paru serta karsinoma usus juga akan disediakan. Kemenkes memiliki target setiap puskesmas dapat melakukan layanan skrining tumor ganas paru dengan alat Low Dose CT-Scan (LDCT) kemudian karsinoma usus besar dengan kolonoskopi.

LDCT mampu mendeteksi lesi kecil atau nodul pada paru-paru yang mana kemungkinan besar merupakan tanda awal neoplasma paru-paru.

“Kita akan selesaikan secara bertahap di area 514 kabupaten/kota supaya tiap puskesmas punya CT-Scan biar dapat melakukan prosedur Low Dose CT-Scan untuk deteksi dini karsinoma paru-paru kemudian kolonoskopi untuk deteksi dini neoplasma usus besar,” kata Menkes Budi.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Utama RS Kanker Dharmais dr. R. Soeko Werdi Nindito mengungkapkan RS Kanker Dharmais siap bekerja sejenis dengan kolegium kemudian organisasi profesi untuk memberikan pelatihan terhadap dokter-dokter umum di tempat puskesmas untuk dapat melakukan layanan deteksi dini kanker.

 “Kami akan mengambil bagian juga melatih dokter-dokter umum di area puskesmas untuk dapat melakukan USG dan juga layanan deteksi dini neoplasma lainnya dengan turut bekerja sebanding dengan organisasi profesi lalu kolegium supaya pelatihan secara masif dapat diadakan pada waktu cepat,” ungkap dr. Soeko.

Kementerian Bidang Kesehatan juga bekerja identik dengan kolegium serta organisasi profesi untuk melakukan konfirmasi semua rumah sakit siap melakukan layanan penyakit kanker. 

Selanjutnya, Menkes Budi berharap upaya ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran warga untuk mau pergi ke puskesmas lalu melakukan skrining juga pemeriksaan deteksi dini kanker. 

“Kita semua perlu berkolaborasi melakukan edukasi yang digunakan masif supaya publik mau pergi ke puskesmas untuk lakukan deteksi dini. Publik jangan takut buat skrining serta periksa. Jika terdeteksi ada yang dimaksud positif kanker, tiada perlu khawatir, dapat segera rujuk ke rumah sakit sebab sudah ada kami siapkan untuk dilaksanakan perawatan berikutnya. Lebih cepat ditemukan maka kemungkinan sembuhnya juga besar,” tutup Menkes Budi.

Related Articles

Back to top button