Nasional

Tom Lembong Vs Luhut serta Bahlil perihal Nikel: Tabiat Elit Politik Sibuk Urus Kepentingan Industri Dibanding Rakyat!

Kertasleces.co.id – Jaringan Advokasi Tambang atau Jatam mengkritisi ‘perseteruan’ antara co-captain Timnas AMIN Thomas Lembong dengan Menteri Koordinator Lingkup Kemaritiman juga Penanaman Modal Luhut Binsar Pandjaitan serta Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia masalah bidang nikel.

“Pernyataan Tom dan juga “serangan balik” Luhut kemudian Bahlil mengenai proses pengolahan lebih lanjut nikel itu menggambarkan tabiat elit urusan politik juga pengurus negara yang tersebut tambahan sibuk bicara perihal kepentingan industri, dari pada rakyatnya sendiri,” kata Juru Kampanye, Alfarhat Kasman, lewat keterangannya yang tersebut disitir Suara.com, Hari Sabtu (27/1/2024).

Saling serang antara para elit kebijakan pemerintah tersebut, berawal ketika Tom yang tersebut merupakan mantan menteri perdagangan lalu mantan kepala BKPM, menilai proses pengolahan lebih lanjut nikel terdiri dari pengerjaan smelter yang masif di dalam di negeri berpotensi merugikan sebab berdampak over supply. Akibatnya, nilai tukar nikel jatuh. Hal itu disampaikannya pada podcast Total Politik.

Tom juga bilang, produsen mobil Tesla di tempat China sudah pernah menggunakan LFP (Lithium Ferro Phosphate) 100 persen kemudian tidaklah lagi menggunakan nikel. Mendengarnya, Luhut juga Bahlil kompak mengkritisi pernyataan Tom.

Menurut Kasman, Tom maupun Luhut serta Bahlil sama-sama abai dengan realitas praktik proses pengolahan lebih lanjut nikel yang mana justru memiskinkan warga dan juga menguntungkan pelaku industri.

“Hilirisasi itu telah lama memicu perluasan pembongkaran nikel yang digunakan berdampak pada lenyapnya ruang produksi warga, pencemaran sumber air juga perairan laut, perusakan kawasan hutan yang digunakan memicu deforestasi, terganggunya kebugaran warga, hingga kekerasan dan juga kriminalisasi, dan juga kecelakaan kerja yang digunakan berujung pada kematian,” ujar Kasman.

Berdasarkan, catatan Jatam, kata Kasman, situasi itu terjadi di area hampir seluruh kawasan industri, mulai dari PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di dalam Morowali, PT Gunbuster Nickel Industry pada Morowali Utara, Virtue Dragon Nickel Industry di tempat Konawe, Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) pada Halmahera Tengah, hingga Kawasan Industri di area Pulau Obi yang dikendalikan Harita Group.

“Pengabaian menghadapi realitas pelik itu, berikut saling ‘serang’ antar elit urusan politik yang tersebut sedang mempertahankan kemudian merebut kekuasaan pada pemilihan 2024, tampak bukanlah semata-mata membongkar borok proyek proses lanjut andalan Presiden Jokowi yang ugal-ugalan, tetapi juga bisa saja dibaca sebagai terganggunya kepentingan kegiatan bisnis Bahlil kemudian Luhut, juga banyak entrepreneur dan juga elit kebijakan pemerintah yang dimaksud tersebar di dalam tiga pasangan capres-cawapres pemilihan raya 2024,” terang Kasman.

Bahlil, disebut Jatam, terhubung ke PT Meta Mineral Pradana, perusahaan tambang nikel yang dimaksud memiliki dua izin tambang di tempat Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Pemegang saham perusahaan ini dimiliki oleh PT Rifa Capital (10%) lalu PT Papua Bersama Unggul (90%), milik Bahlil.

Sedangkan Luhut, relasinya terkait dengan PT Tenaga Kreasi Bersama (Electrum), perusahaan patungan antara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GoTo) kemudian PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), milik Luhut. Catatan Jatam, Electrum berfokus pada pengembangan habitat lalu bidang kendaran listrik secara terintegrasi dari hulu ke hilir, meliputi manufaktur kendaraan beroda dua motor listrik, teknologi pembuatan baterai, infrastruktur penukaran (swap) sel juga stasiun pengisian daya, hingga pembiayaan.

Melalui GoTo ini juta, kata Kasman, kepentingan kegiatan bisnis Luhut ketemu dengan Garibaldi Boy Thohir, yang dimaksud beberapa hari lalu mengklaim beberapa jumlah taipan mengupayakan pasangan Prabowo-Gibran. Boy Thohir tercatat sebagai pemegang saham sekaligus menjabat sebagai Komisaris GoTo.

“Sehingga, saling ‘serang’ antara Tom Vs Luhut dan juga Bahlil itu, tampak semata-mata terkait kepentingan merek sendiri serta kroni dan juga bidang itu sendiri. Parahnya lagi, gaduh nikel itu demi meraup keuntungan urusan politik di dalam pemilihan raya 2024, tiada di kerangka mengatasi penderitaan dan juga kerusakan lingkungan akibat proyek hilirisasi,” kata Kasman.

“Dipakai atau tak dipakainya nikel Indonesia oleh Tesla, mirip sekali tak berdampak pada pengurangan pembongkaran nikel pada Kepulauan Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Sebaliknya, pembongkaran terus berlanjut, mengabaikan derita rakyat kemudian kehancuran lingkungan yang digunakan tak pernah terurus,” sambungnya.

(Sumber: Suara.com)

Related Articles

Back to top button